PEMBELAJARAN DARING SEBAGAI DAMPAK PANDEMI COVID-19
DI SMK PGRI WONOASRI

Oleh TATIK SULISTYANNGSIH, S.Pd

Pandemi covid-19 mulai terjadi di Indonesia sejak awal tahun 2021 yang lalu.  Covid-19 itu sendiri adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Pada akhir Januari 2020 WHO telah menetapkan sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia. Di SMK PGRI Wonoasri sendiri, hal ini sangat terasa setelah UNBK 2020 yaitu 16-19 Maret 2021, pembelajaran daring harus dilaksanakan. Pada tanggal 24 maret 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran covid-19. Dalam Surat Edaran tersebut dijelaskan bahwa kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar bagi siswa.

Penutupan sementara lembaga pendidikan sebagai upaya menahan penyebaran pandemi covid-19 di Indonesia, khususnya di SMK PGRI Wonoasri, berdampak pada proses pembelajaran. Hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat beberapa kendala yang dialami oleh murid, guru dan orang tua dalam kegiatan belajar mengajar online yaitu (1) Penguasaan teknologi masih kurang, (2) Penambahan biaya kuota internet, (3) Adanya pekerjaan tambahan bagi orang tua dalam mendampingi anak belajar pada siswa tertentu (4) Komunikasi dan sosialisasi antar siswa, guru dan orang tua menjadi berkurang, dan (5) Jam kerja yang menjadi tidak terbatas bagi guru karena harus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan orang tua, guru lain, dan kepala sekolah. Pembelajaran daring sangat bermanfaat di masa pendemi saat ini, agar siswa tetap mengikuti pembelajaran walaupun sedang dirumah saja. Akan tetapi pembelajaran daring juga memiliki banyak permasalahan khususnya untuk siswa SMK PGRI Wonoasri. Banyak siswa di SMK PGRI Wonoasri mengalami kesulitan dalam pembelajaran daring ini, karena siswa umumnya dari kalangan menengah ke bawah sehingga, keterkaitan sekali dengan keuangan terutama untuk kuota internet. Pembelajaran daring SMK PGRI Wonoasri biasanya hanya diberikan tugas oleh guru tanpa disertai penjelasan mengenai materinya terlebih dahulu. Sehingga proses belajar siswa hanya bergantung pada kemauan dan motivasi dari siswa itu sendiri. Akan tetapi, ada orangtua tertentu yang terkadang membantu anaknya karena mereka ada waktu, pengetahuan, dan keahlian dalam teknologi.

Pembelajaran daring akan menarik dan tidak akan menjadi beban bagi siswa ketika dilaksanakan secara tepat dan mudah. Dalam pembelajaran daring ini, banyak belajar hal baru, antara lain tentang bagaimana melaksanakan pembelajaran melalui video conference, membuat dan mengelola Classroom, serta membuat kuis atau evaluasi menggunakan Google Form. Akan tetapi, bahan ajar yang digunakan selama pembelajaran daring ini masih sangat kurang. Seharusnya bisa lebih maksimal lagi dalam menyiapkan bahan ajar, misalnya video pembelajaran yang menarik. Oleh karena itu, guru harus banyak belajar dan memperbaharui ilmu untuk terus mengembangkan diri, sehingga dapat menyajikan pembelajaran yang terbaik untuk siswa.

Ada dilema dalam pemanfaatan media daring, ketika menteri pendidikan memberikan semangat produktivitas harus melaju, namun disisi lain kecakapan dan kemampuan siswa belum melaju ke arah yang sama. Negara juga belum hadir secara menyeluruh dalam memfasilitasi kebutuhan biaya untuk menunjang pembelajaran daring. Belum adanya sistem yang baku yang menjadi pegangan sistem pembelajaran jarak jauh menyebabkan semakin sulitnya tercapainya tujuan pembelajaran, dimana dikarenakan keterbatasan media pula mengakibatkan sistem pembelajaran secara daring cenderung hanya sebatas pemberian tugas disertai dengan dokumentasi. Hal ini tentunya mengakibatkan pengetahuan yang harusnya diperoleh siswa menjadi tidak tersampaikan, dimana siswa hanya mengerjakan tugas tanpa pemberian stimulus materi pembelajaran terkait.

Adanya pandemi ini menjadikan perubahan besar dalam tatanan dan sistem pendidikan di Indonesia. Berbagai pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dapat ikut merasakan dampak yang diakibatkan oleh pandemi, mulai dari sekolah, guru, siswa, hingga orangtua. Penyelenggara pendidikan, dalam hal ini sekolah harus merubah sistem pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran secara daring. Sekolah juga harus menyediakan berbagai alternatif proses pembelajaran bagi siswa yang memiliki keterbatasan untuk mengikuti pembelajaran daring. Dampak yang dirasakan guru setelah adanya perubahan pembelajaran menjadi sistem pembelajaran daring adalah guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan media yang digunakan selama kegiatan pembelajaran daring. Berbagai keterbatasan kemampuan guru dalam bidang IT menjadikan guru kembali belajar mengenai perkembangan teknologi dan informasi guna mendukung proses pembelajaran daring. Guru harus memastikan bahwa siswa dapat menyerap pelajaran dengan baik walaupun tidak selalu berhasil maksimal seperti ketika pembelajaran tatap muka di sekolah. Pembelajaran daring merupakan sebuah pola kegiatan baru yang harus dilakukan siswa guna mengikuti serangkaian kegiatan di dalam dunia pendidikan. Akibatnya siswa sekolah harus menyesuaikan diri dan mulai belajar membiasakan diri dengan pola kegiatan pembelajaran daring yang berbeda dengan kegiatan belajar tatap muka di sekolah. Penerapan pembelajaran daring bagi siswa juga berdampak pada kehidupan sosial dan pendidikan karakternya yang harusnya didapat di sekolah, dimana siswa tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya, bermain dan bercanda gurau dengan teman-temannya serta bertatap muka dengan para gurunya. Berkurangnya interaksi dengan teman dan guru dapat menjadikan siswa mudah mengalami kejenuhan dan kebosanan. Semoga pandemic ini segera berakhir supaya pembelajaran tatap muka segera da[at dilaksanakan di Indonesia pada umumnya dan di SMK PGRI Wonoasri pada umumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *